Difabel atau Disabilitas?

Pertanyaan ini seringkali berujung pada perdebatan. Ya, kedua istilah tersebut adalah istilah yang sering digunakan untuk sekelompok orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, maupun fisik dan mental. Sebelumnya mengenal istilah difabel dan disabilitas, mereka disebut sebagai orang yang cacat, tidak normal, dan sebagainya.  Istilah-istilah tersebut dinilai kurang pantas yang mengakibatkan stereotip yang negatif pula di masyarakat. Oleh karena itu, beberapa aktivis berusaha untuk menciptakan istilah yang tepat dalam rangka memanusiawikan status mereka di mata masyarakat umum.

Lalu istilah apa yang tepat? Difabel atau disabilitas? Ada baiknya kita pahami terlebih dahulu definisi dari masing-masing istilah.

Menurut WHO, disabilitas adalah payung terminologi untuk gangguan, keterbatasan aktivitas atau pembatasan partisipasi. Sedangkan UU No 8 Tahun 2016 menjelaskan bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Disabilitas berasal dari bahasa inggris yaitu disability. Kata disabilitas memiliki unsur dis- yang memiliki makna ketidakmampuan dan kegagalan. Hal inilah yang memicu terjadinya pro dan kontra mengenai penyebutan istilah disabilitas ini.

Difabel sendiri merupakan hasil adaptasi dari frasa differently-abled, bukan different ability seperti yang disebutkan oleh sebagian orang yang lebih merujuk pada orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda. Istilah differently-abled bermakna bahwa teman-teman difabel mungkin saja tidak dapat melakukan sebuah aktivitas dengan cara yang sama seperti orang-orang pada umumnya, tetapi mereka masih bisa melakukannya dengan cara yang berbeda. Hal ini bukan berarti dengan keterbatasan yang ada, mereka tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Istilah difabel pertama kali diusulkan oleh Mansour Fakih dalam diskusinya bersama Setia Adi Purwanta seorang aktivis gerakan difabel dari Yogyakarta sekitar tahun 1997-an. Melalui kata difabel ini, Mansour Fakih mencoba untuk meletakkan para penyandang cacat pada posisinya sebagai manusia. Sehingga kata difabel diyakininya lebih humanis daripada kata penyandang cacat. Istilah difabel banyak digunakan di daerah Yogyakarta dan Solo. Istilah ini juga cukup populer digunakan oleh masyarakat nasional, meskipun istilah ini tidak digunakan secara resmi dalam konvensi internasional maupun hukum nasional.

Istilah disabilitas maupun difabel sesungguhnya dapat digunakan menyesuaikan dengan konteks pemakaiannya. Penggunaan kedua istilah tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mengganti istilah penyandang cacat yang dinilai mengandung konotasi negatif. Istilah penyandang disabilitas lebih sesuai digunakan dalam kebutuhan yang bersifat formal atau resmi seperti seminar, lokakarya, penulisan dalam proposal, dokumen legal, dan lainnya karena istilah ini secara hukum diakui oleh Undang-Undang. Sedangkan istilah difabel dapat digunakan dalam situasi informal atau tidak resmi seperti dalam percakapan sehari-hari.  Meski memiliki perbedaan makna, pada dasarnya, keduanya merupakan hasil upaya para aktivis dalam mengganti sebutan “penyandang cacat” dengan istilah yang lebih humanis. Dan yang terpenting adalah, bagaimana mereka diperlakukan dan dilibatkan secara layak sebagai bagian dari masyarakat umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *