Etika Berinteraksi dengan Difabel Mental dan Intelektual

Interaksi dengan Difabel Mental

UU No 8 Tahun 2016 menjelaskan bahwa penyandang disabilitas mental mengacu pada terganggunya fungsi pikiran, emosi, dan perilaku akibat gangguan fungsi psikologis atau adanya hambatan dalam interaksi sosial. Mulailah interaksi dengan menyapa difabel mental. Ketika bebicara gunakan kata-kata sederhana. Berikut adalah beberapa etika saat berinteraksi dengan difabel mental:

Etika Pendampingan dalam Ruangan

Bila diskusi atau seminar perlu disediakan pojok istirahat (sofa), karena disabilitas mental perlu istirahat karena kerap mengalami rasa pusing atau tidak fokus. Selalu siap untuk konsultasi bila disabilitas mental gaduh atau gelisah (down). Untuk menenangkannya bisa dengan cara diajak menjauh atau keluar dari ruangan sehingga emosinya lebih tenang dan stabil.

Etika Pendampingan di luar Ruangan

Bila berpergian (rombongan) contohnya out bond, disabilitas mental mengenakan seragam, agar supaya bila ada yang keluar dari rombongan atau tertinggal mudah untuk mencarinya.

Etika Pendampingan dalam Keluarga

Keluarga harus menerima dan tidak malu apabila ada anggota yang disabilitas mental. Keluarga (Orang tua) tidak pilih kasih atau membedakan dalam bersikap. Mendukung dalam pengobatan dan memberi semangat dengan bersikap kasih sayang dan lemah lembut. Melakukan pendekatan hal yang  disukai atau hobi. Tangani dengan baik pengobatan disabilitas mental dengan cara pengobatan medis atau psikiater, bila mendapatkan obat pastikan agar obat diminum dengan teratur. Keluarga jangan menganggap difabel mental itu dengan pandangan klenik seperti dianggap kerasukan jin atau lainnya sehingga dibawa ke dukun atau paranormal.

Etika Pendampingan dalam Masyarakat

Masyarakat jangan mendiskriminasikan atau mengucilkan difabel mental. Masyarakat harus mengikutsertakan difabel mental dalam berbagai kegiatan seperti dalam perayaan 17 Agustus, kerja bakti, dan lain-lain. Petugas RT/RW atau petugas capil turun langsung ke lokasi untuk mendata difabel mental terutama untuk membuat KTP juga surat-surat penting lainnya.

Interaksi dengan Difabel Intelektual

Berdasarkan UU No 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas intelektual adalah teganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan dibawah rata-rata, antara lain lambat belajar, difabel grahita, dan down syndrome. Etika saat berinteraksi dengan difabel intelektual adalah memulai interaksi dengan ramah, gunakan bahasa yang sederhana, serta perbanyaklah senyum.

Referensi: Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Kemsos RI, Kominfo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *