Bisindo dan SIBI, Apa Bedanya?

“Saya seorang Tuli dan saya bisa berkomunikasi; saya bisa mendengar, mendengarkan dengan melihat.. “

Sepenggal kalimat yang begitu berkesan dari seorang teman dalam suatu acara yang melibatkan teman-teman dengar dan Tuli. Kalimat yang memberikan pemahaman yang lebih luas dari makna kata “berkomunikasi”, di mana tidak hanya terbatas pada mendengar dengan telinga dan mengatakan dengan suara. Tetapi juga memberikan pemahaman bahwa mendengarkan juga dapat dilakukan dengan mata dan berbincang dapat dilakukan dengan gerakan/ gesture serta ekspresi yang membuat teman-teman difabel Tuli menjadi setara. Itulah yang dipahami dengan “Budaya Tuli” melalui bahasa isyarat.

Bahasa isyarat adalah salah satu bahasa komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan pergerakan tangan, tubuh, atau ekspresi wajah. Perbedaan mendasar antara bahasa isyarat dan bahasa lisan terletak pada modalitas atau sarana produksi dan persepsinya. Bahasa lisan diproduksi melalui alat ucap (oral) dan dipersepsi melalui alat pendengaran (auditoris), sementara bahasa isyarat diproduksi melalui gerakan tangan (gestur) dan dipersepsi melalui alat penglihatan (visual). Dengan demikian, bahasa lisan  adalah bahasa yang bersifat oral-auditoris, sementara bahasa isyarat bersifat visual-gestural. Pada saat ini terdapat banyak bahasa isyarat di dunia antara lain American Sign Language (ASL), French Sign Language (FSL), Germany Sign Language (GSL), Arabic Sign Language (ArSL) dan masih banyak lagi. Meskipun ada banyak bahasa isyarat di dunia ini tetapi sampai saat ini belum ada bahasa isyarat internasional yang dapat digunakan oleh teman Tuli dan wicara di seluruh dunia.

Di Negara Indonesia sendiri terdapat dua bahasa isyarat yakni Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Sistem bahasa isyarat SIBI pertama kali diperkenalkan oleh Anton Widyatmoko seorang mantan kepala sekolah SLB/B di Semarang. Bahasa isyarat ini merupakan adaptasi dari bahasa isyarat  American Sign Language (ASL). SIBI digunakan dalam pengajaran di Sekolah Luar Biasa untuk penyandang disabilitas Tuli (SLB/B). Sementara itu, BISINDO merupakan bahasa isyarat yang dikembangkan oleh penyandang disabilitas Tuli melalui Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN). BISINDO muncul secara alami dalam budaya Indonesia dan praktis digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, BISINDO memiliki beberapa variasi ditiap daerah, misalkan BISINDO yang digunakan di Balikpapan akan berbeda dengan BISINDO yang digunakan di Yogyakarta. 

Perbedaan bahasa isyarat BISINDO dan SIBI yang cukup terlihat adalah BISINDO menggunakan dua tangan untuk mengisyaratkan abjad, sedangkan SIBI hanya menggunakan satu tangan saja. Perbedaan lain dari BISINDO dan SIBI juga terletak pada tata cara bahasa. BISINDO mengandung kosa isyarat yang simbolis. Selama makna dari sebuah kata terwakili, maka kosa isyarat yang sederhana dari BISINDO sudah cukup. Sementara itu, SIBI dibuat untuk mengajarkan sistem Bahasa Indonesia kepada teman Tuli sehingga aturan-aturan penggunaan kosa isyarat pada SIBI lebih rumit dan berjenjang, seperti adanya penggunaan awalan dan akhiran untuk setiap kata. Selain itu juga bahasa isyarat SIBI merupakan adaptasi dari Bahasa Isyarat Amerika yaitu American Sign Language (ASL) sehingga konteksnya dirasa kurang sesuai bagi teman Tuli. 

Bahasa isyarat tidak terbatas hanya digunakan untuk teman difabel Tuli dan wicara saja, tetapi juga bisa digunakan oleh teman dengar agar dapat berkomunikasi atau menjadi JBI (Juru Bahasa Isyarat) bagi teman difabel Tuli dan wicara. Selain itu, juga dapat digunakan untuk kegiatan lain salah satunya seperti komunikasi antar penyelam dalam aktivitas penyelaman (diving). Namun berdasarkan kode etiknya teman dengar tidak boleh mengajari teman dengar lainnya bahasa isyarat. Hal ini dilakukan untuk memanamkan pesan inklusi di masyarakat. Jadi, jika ada teman dengar yang ingin mempelajari bahasa isyarat maka belajar langsung dengan yang punya bahasa yaitu teman difabel Tuli ya. Bahasa isyarat bisa dipelajari melalui komunitas-komunitas Tuli yang ada di kota masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *