Berkenalan dengan Huruf Braille

Dari celah kerumunan penumpang busway yang saya tumpangi, terlihat seorang anak perempuan ditemani oleh bukunya. Dia memegangi buku di pangkuannya. Jarinya menari di permukaan halaman buku. Mulutnya berkomat-kamit sendiri beriringan dengan senyum tipisnya. Anak perempuan di kursi penumpang depan saya tersebut sedang asik tenggelam dalam buku yang tengah dia raba. Halamannya sekilas tampak kosong hingga tak lama saya tersenyum ketika meneruskan kembali membaca buku di pangkuan saya. Saat itu saya menyadari suatu hal bahwa kami sama; kami berdua sedang membaca.

“Kami sama-sama sedang menikmati aksara, hanya caranya saja yang berbeda.”, kata saya dalam hati siang itu.

Perkenalkan, aksara dalam buku anak perempuan tersebut bernama “Braille”.

Huruf Braille merupakan sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh teman-teman difabel netra dalam membaca dan menulis yang diciptakan oleh seorang Perancis bernama Louis Braille. 

Louis Braille lahir pada tahun 1809. Kecelakaan pada ruang kerja sang ayah, mengakibatkan mata Louis Braille tertusuk benda tajam dan membuatnya menjadi buta permanen pada usia tiga tahun.

Munculnya inspirasi untuk menciptakan sistem baca-tulis ini berawal dari seorang mantan perwira artileri Napoleon, Kapten Charles Barbier. Kapten Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi gelap malam. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan night writing.

Louis Braille kemudian mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa difabel netra untuk menyesuaikan kebutuhan mereka. Dari hasil uji coba tersebut, ternyata jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis, sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong/spasi.

Braille menggunakan kerangka penulisan seperti kartu domino. Satuan dari tulisan ini disebut sel Braille, di mana tiap sel terdiri dari enam titik timbul; tiga baris dengan dua titik pada masing-masing baris. Keenam titik tersebut dapat disusun sedemikian rupa hingga menciptakan 64 macam kombinasi. Huruf Braille dibaca dari kiri ke kanan dan dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika, dan lainnya. Ukuran huruf Braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 mm.   

Sistem ini pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam pembelajaran murid-murid difabel netra. Sistem ini memberikan akses bagi difabel netra untuk mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan sekaligus memudahkan proses pembelajaran.

Keterbatasan penglihatan bukan berarti menghalangi teman-teman difabel netra dalam mengakses informasi. Bagi difabel netra, informasi yang sebelumnya dalam bentuk visual diubah menjadi bentuk lain seperti bunyi-bunyian, bau-bauan, atau sentuhan sehingga memudahkan mereka menerima informasi, sebab kemampuan indera lain seperti pendengaran, penciuman, dan perabaan mereka lebih optimal. Braille merupakan salah satu perwujudan kesetaraan hak teman-teman difabel netra kaitannya dengan akses informasi dalam bentuk tulisan dan berliterasi.

Selamat Hari Aksara Sedunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *